Kethoprak Madukacermo menampilkan lakon "Bedah Madiun" dalam Gelar Budaya Bangunjiwo
Administrator 20 November 2019 08:12:20 WIB
BangunjiwoNews () Paguyuban Kethoprak Mataram Madukacermo Pedukuhan Gendeng turut meramaikan Gelar Budaya Bangunjiwo Tahun 2019 di Pendopo Desa Bangunjiwo Kecamatan Kasihan Bantul (Selasa malam 19/11). Pada pementasan kalin ini Kethoprak Pedukuhan Gendeng menampilkan lakon “Bedah Madiun”.
Lakon ini mengisahkan perang antara Mataram dengan Madiun. Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senapati berkeinginan kuat memperluas wilayahnya ke arah timur (Jawa Timur). Menurut ramalan Sunan Giri, sebelum menguasai wilayah Jawa Timur, hendaknya menaklukan terlebih dahulu negara-negara di Bang-Wetan (sebutan untuk beberapa wilayah yang berada di sebelah timur dari Keraton Mataram), salah satu wilayah di dalamnya adalah Madiun.
Sebaliknya Madiun di bawah Panembahan Madiun bersatu dengan para bupati di Bang-Wetan tidak mau menyerah dan bermaksud mendahului menyerang Mataram. Hal itu, diketahui Panembahan Senapati dan kemudian mengatur strategi perang karena mengakui kekuatan prajurit perangnya tidak seimbang dengan negara Bang Wetan. Selanjutnya Senapati berunding dengan Pangeran Adipati Mandala-Raka (nama lain dari Ki Juru Martani setelah diangkatnya menjadi patih).
Lalu dilancarkan suatu strategi, Senapati menyuruh seorang abdi wanita bernama Adisara untuk menyerahkan surat takluk kepada Panembahan Madiun dan memintanya agar segera membubarkan prajurit perangnya. Pada saat jumlah bala tentara menyusut, kesempatan ini digunakan Senapati menyerang Madiun. Pasukan Madiun tidak siap menghadapi serangan itu, mengalami kekalahan.
Panembahan Madiun sangat geram dan kecewa atas tipu muslihat Senapati, kemudian melarikan diri. Peristiwa tersebut kemudian didokumentasikan sebagai sebuah tarian klasik di Keraton Kasultanan Yogyakarta dikenal dengan Bedhaya Bedhah Madiun. Tarian ini diciptakan Sultan Hamengku Buwono VII. Pada bedhaya ini terdapat dua penari yang menyandang keris. Simbolisasi dari bagian tarian ini adalah pertemuan antara Panembahan Senapati dengan Retno Dumilah (seorang senapati perang utusan Panembahan Madiun untuk melawannya). Karena dahsyatnya rayuan asmara oleh Panembahan Senapati, menyebabkan keris yang dipegangnya terjatuh, yang merupakan simbolisasi takluknya Madiun.
Paguyuban kethoprak ini beranggotakan warga masyarakat Gendeng terdiri dari generasi muda maupun tua yang disepuhi oleh Santosa Wiguno yang merupakan praktisi kesenian kethoprak dan juga merupakan seorang dalang wayang kulit.
Komentar atas Kethoprak Madukacermo menampilkan lakon "Bedah Madiun" dalam Gelar Budaya Bangunjiwo
Formulir Penulisan Komentar
Profil Desa Wisata Bangunjiwo Paradise Of Culture
PENGUMUMAN
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Rapat Koordinasi Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban BUMKAL Bangun Kamulyan TA 2025
- Ulang Tahun dan Tasyakuran TK PKK 18 Harapan Bangsa Sembungan Tahun 2026
- Bangunjiwo mengikuti zoom meeting Tasyakuran Swasembada Pangan Nasional Tahun 2026
- Rekap Pelayanan Ambulance Pemerintah Kalurahan Bangunjiwo TA 2025
- Lurah Bangunjiwo pimpin Apel Pamong di awal Januari Tahun 2026
- Jadwal Pelayanan SIM Keliling Bulan Januari 2026
- Paguyuban Karawitan Larasati Meriahkan Pergantian Tahun 2025 - 2026
Website desa ini berbasis Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Combine Resource Institution sejak 2009 dengan merujuk pada Lisensi SID Berdaya. Isi website ini berada di bawah ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International (CC BY-NC-ND 4.0) License
















